Sekar: Bukan Epilog

Aku ini memang kolot, aku masih percaya akan dongeng tentang pangeran tampan berkuda putih yang akan menjemput kekasihnya. Merasa seperti si Putri tak berdaya yang hanya mampu mendendangkan kidung-kidung cinta selama ia menunggu pujaan hati datang untuknya, ia tak punya daya untuk mencari jalan keluar dari kastil Penyihir Jahat untuk sekedar berkata cinta pada Sang Pangeran Tampan. Sangat kolot, hingga sering dipandang konyol oleh banyak orang. Ya itulah aku.

Lelaki itu masih orang yang sama sejak enam  tahun yang lalu. Seorang lelaki yang membuatku bahagia karena ada satu orang yang menyadari keberadaanku di saat aku merasa sendiri di lingkungan sekolah yang masih asing bagi diriku. Aku masih ingat dialog pertamaku dengannya, “Sekar, kamu sakit?” tanyanya kepadaku yang tetap saja berada di dalam kelas ketika jam istirahat datang. Aku lumayan terkejut, saat dia tahu namaku – karena sebenarnya aku sendiri lupa namanya – perkenalan singkat saat Masa Orientasi Siswa sama sekali belum berhasil bagi otakku yang pelupa dalam hal ingat-mengingat nama orang.

Keterkejutan itu tak sampai membuatku mencinta seperti orang gila, sama sekali tidak. Saat itu aku berpikir bahwa lelaki ini punya ingatan yang super canggih, mungkin dia selalu mengkonsumsi suplemen penambah daya ingat setiap habis sarapan. Tapi ternyata tidak, ingatannya tidak secanggih itu, ketika ada permainan “menyebutkan nama teman” di jam pelajaran yang di isi bimbingan konseling, Ia hanya mampu menyebutkan 11 nama murid, 10 laki-laki dan 1 perempuan, dan perempuan yang berhasil mendapat satu tempat dalam ingatannya adalah aku,  Sekar Wulandari.

Semenjak itu aku memperhatikannya dan aku tenggelam dalam keindahan-keindahan dari seorang lelaki sederhana yang memiliki tawa indah dengan kecerdasan khas pemuda Yogyakarta, dia lah dia, yang sudah membuatku men-dungu untuk enam tahun lamanya, Narendra Wijaya. Kini dia berkuliah di Yogya, di tanah kelahiran ayahandanya. Aku tak pernah berani bertanya akan kabarnya, apalagi mengungkapkan rasa yang aku pendam selama ini, aku adalah pecundang sejati dalam hal demikian.  Rendra pun tak pernah memberi kabar, mungkin dia lupa padaku, lupa pada perempuan yang namanya ia ingat betul pada permainan enam tahun silam.

Terkadang aku menganggap bahwa hidupku ialah sebuah ironi, aku adalah perempuan yang mengagungkan kekritisan, aku suka berdebat, mengungkapkan argumenku, aku tidak suka terpaku dalam pakem tradisional masyarakat bahwa seorang wanita harus lemah lembut dan kemayu. Aku berani angkat bicara atas semua gagasanku, tapi di lain pihak aku adalah penganut keras kepala atas paham “perempuan harus menunggu”. maka kondisi kisah cintaku tak ubahnya seperti keadaan di ruang tunggu klinik 24 jam, menyedihkan.

Yea, I have an acne prone skin. Do you have any problem?

Beginilah jika memiliki kulit wajah acne prone. Stress sedikit, jerawatan.. makan ga dijaga, jerawatan.. kangen pacar, jerawatan (mpret hehe).. bersihin mukanya ga bener, jerawatan.. erghh!!

*inhale exhale* kadang ngerasa sedih juga dengan keadaan wajah yang mudah break-out. Dan keluarnya pun kadang sekali banyak gitu.. kayak debut girlband.. haha. Kagak nyantee..

Sekitar tahun 2012 saya pernah mengalami jerawat yang parah banget.. literally PARAH! Seluruh muka bisa dibilang dihiasi jerawat dan ini bukan seperti masalah yang kecil, buat saya.. pun buat orang2 yang dekat dengan saya. Specially, my Mama. Keliatan dia juga sedih banget liat kondisi wajah anaknya. wuah.. alhamdulillah masa itu sudah berlalu. Hehe ya muka saya masih berjerawat, tapi ga separah dulu.

Saat wajah saya jerawatan semuka, kemana pun saya pergi, orang-orang akan ngeliatin saya, bukan karena apa-apa.. tapi karena jerawat saya. Blah. Ada yang ekspresinya kayak yg lagi ngomong “ohh.. kasian cekayi gadis ini”.. ada juga yang ekspresinya kayak yang jijik terus pengen ngomong “iyuhh kayaknya ni cewe jarang cuci muka deh, jorok.. jerawat sampe semuka gitu.. omaygad iyuuuhh!!!” .. begitulah yang saya rasa. Tatapan-tatapan ini sangat bikin risih dan bikin kepercayaan diri saya menurun drastis. Saya sangat menghindari tempat ramai dan ketemu orang-orang. Jadilah aktivitas saya sangat monoton.. ngantor-pulang-ngantor-pulang. Males liat muka di kaca. Nangis? sering.. bertanya-tanya.. apa sih salah saya sampe dikasih jerawat sebanyak ini? hehe.. sedih ya? hiks..

Nah!! Sedikit saran, kalau kamu bertemu dengan orang dengan banyak jerawat jangan bilang kalimat-kalimat di bawah ini, apalagi kalo lagi di depan umum, karena mungkin kamu ngira ini hanya sekedar obrolan, tapi sungguh ini bisa berdampak buruk loh. coba simak ya beberapa kalimat di bawah ini yang sering banget dikatakan orang lain kepada orang yang mukanya jerawatan:

  1. “duhh.. muka lo kenapa??”
  2. “makanya jaga kebersihan.. cuci muka minimal 2 kali sehari”
  3. “lo coba pake ini deh itu deh”
  4. “obatin deh cepet.. ke dokter kulit biar ga makin parah”

Dan banyak kalimat-kalimat lain, entah itu pernyataan atau pertanyaan yang datang karena mungkin anda menganggap anda peduli, but really, it helps NOTHING!

Kenapa? Karena..

  1. “duhh.. muka lo kenapa??” dear, please.. muka dia lagi jerawatan, kamu rabun kah sampe harus nanya? Dan dia sadar persis akan problem yang dia hadapi, percayalah dia pun sedang mencari solusi untuk menghilangkan jerawatnya.
  2. “makanya jaga kebersihan.. cuci muka minimal 2 kali sehari” hfftt.. paling kesel ngehadapin orang yang suka ngejudge kayak gini. Saya jerawatan bukan karena saya jorok (pembelaan :p).. but really.. kamu bisa nemuin seseorang yang jorok pisan, mandi jarang.. megang-megang kulit muka sembarangan, tapi mukanya ga ada jerawat!!! Lihat (maaf) orang dengan gangguan mental yang ada di jalanan, yang kotor-kotoran, tapi wajah mereka ga jerawatan.. please.. jangan jadi orang yang suka ngejudge. IT HURTS. Saya cuci muka 2 kali sehari.. even more kalo saya rasa perlu. Tapi yang namanya jerawat bisa muncul karena banyak hal, bukan Cuma karena isu kebersihan diri.
  3. “lo coba pake ini deh itu deh” percayalah.. kebanyakan produk-produk yang kamu sebutin udah pernah dia dengar, bahkan udah pernah dia coba. Pada kasus saya, hampir semua yang disarankan orang lain kepada saya sudah saya coba, karena saya melalukan riset juga. Ini wajah saya, asset saya, saya ingin menyelamatkannya. Jangan pernah berpikir saya ngerasa oke-oke aja punya wajah ditemplokin jerawat di sana sini.
  4. “obatin deh cepet.. ke dokter kulit biar ga makin parah” hmm.. hampir sama jawabannya dengan nomor 3. We DO research. Dan nama-nama dokter kulit best in town, kebanyakan udah saya tahu. Tapi tiap orang punya pilihan untuk mau datang ke dokter kulit atau ga. First, It’s d*mn expensive. Saya pernah berobat ke dokter kulit yang tiap periksa/kontrol harus ngeluarin uang 1 juta lebih, udah termasuk obat sih. Dan ada juga yang 500 rb per pertemuan, tapi belum termasuk obat. Come on, ga semua orang itu kaya rayah dengan uang berjuta-juta rupiah nongkrong di dompetnya tiap hari. Unless, you’re gonna pay for it! haha. Btw, hasil saya ke dokter kulit cukup baik.. jerawat kabur, but, setelah saya ga nerusin perawatan ke dokter yang bersangkutan ya balik lagi deh jerawatnya.. eerrr.

Itu beberapa kalimat yang agak nyebelin dan bikin cape untuk menjawab/merespon.

Terima kasih sudah merasa peduli.. terima kasih sudah mau melakukan pengheningan cipta sejenak melihat keadaan muka saya/teman-teman lain yang mukanya berjerawat. Percaya deh, kalo kami merasa perlu saran dari kamu atau kamu bisa menjadi pendengar yang baik akan curhatan kami seputar jerawat, kami akan datang dengan sendirinya kepada kamu.. mencurahkan semua kegelisahan kami ke kamu. Tapi kalo kami datang kepadamu bukan untuk meminta saran tentang jerawat, jangan pernah singgung ya.. liat diri kami sebagai diri kami, bukan apa yang ada di wajah kami. Kami ga mau jerawatan, kami mencoba untuk keluar dari masalah ini, dan sikap kamu yang bisa tetap berinteraksi dengan kami tanpa terganggu atau mempermasalahkan kondisi wajah kami, sangatlah membantu pemulihan kepercayaan diri kami.

Kalo kamu merasa kamu perlu menyampaikan saran, karena kamu tau solusi yang tepat untuk mengatasi jerawat temanmu, sampaikanlah secara personal, empat mata🙂

Berempatilah.. buat temanmu yang memiliki jerawat merasa nyaman dekat dengan kamu, karena kamu melihatnya sebagai pribadi, bukan sekedar wajah. Terima kasih sudah mau membaca🙂

P.S: maaf kalo terlalu sarkas.. hehe i just really need to drop it down. haha.

Wina: Sebuah Kesalahan di Atas Muka Bumi

Aku adalah aku dengan segala keakuannya. Absurd, menyebalkan, pemarah, suka makan tapi kadang susah makan, senang bercanda, senang dibully. Iya tidak apa-apa, asal dibullynya dengan cinta. Mana ada? ya ada kan saja biar dunia ini indah.. kan cinta itu macam converter, apapun jika dibumbui dengan cinta maka akan romantis, menyenangkan, membahagiakan. Ga peduli lagi dibully, tapi tetap senang. Haha.

Eh bercanda kok.. aku ga suka dibully.. kan aku sudah bilang aku suka bercanda. Maka sungguh itu bercanda.

Aku adalah Wina Ekawati (Lesmana) yang blognya sedang kamu baca. Bukan orang spesial, maka jika kamu baca blog-ku sudah pasti kamu sedang blogwalking dan alam berkonspirasi sehingga kamu yang polos dan innocent ini pun terjerumus ke blog-ku HUAHAHAHAH. Tak apa-apa ya? hidup kan memang begitu, kadang kamu suka dapat kejutan-kejutan yang tak disangka-sangka, nah ini salah satunya. Kejutan buat kamu… blog absurd.

Kemarin itu aku terhenyak betul. Karena ada teman yang iseng nyari arti kata namanya pake google translate maka aku pun ikut-ikutan. Aku tergelitik ingin tahu arti nama depanku (Wina, red). Karena setahuku nama depanku itu tak ada arti. Kalau di bahasa Sansekerta yang ada artinya itu Winata (utama), Winadi (dirahasiakan), Winardi (diberi makna), Winarna (diceritakan).. kalau kata “Wina” sendiri tak ada arti. Maka di bahasa-bahasa bangsa lain, kata “Wina” mungkin punya arti.

Ya sekedar iseng-iseng berhadiah.. macam beli permen karet Yosan, kali aja di bungkusnya ada huruf “N”.  (ngerti  ga? Ga ngerti? Berarti kamu belum cukup tua, jadi lupakan saja)

Okay. Lalu aku pun memasukkan namaku ke dalam kolom kata yang akan ditranslate. Bahasa asalnya kusetting deteksi otomatis. Dan inilah hasilnya…

Gambar

Kata “Wina” dalam Polish (Bahasa Polandia) berarti kesalahan. 

Hmm.. okay. Sungguh ku tersentak.

Apa yang kuharapkan adalah arti kata yang baik-baik, indah-indah, keren-keren.. ya.. yang kuharap mungkin di bahasa salah satu bangsa di Afrika atau di belahan bumi lainnya ada yang mengartikan kata Wina sebagai bidadari misalnya atau pengetahuan atau ratu atau bebungaan atau air murni atau buah durian. Ya siapa tau.. pokoknya yang membuat hatiku ini bangga nantinya kalau cerita ke orang-orang.. seperti “eh, ternyata kata Wina di bahasa Swahili tuh artinya Putri Raja yang Cantik Riang Gembira Senang Menabung dan Membahagiakan Rakyatnya dan Didambakan Pangeran Berkuda Putih” ya kan jadinya keren aja gitu, kayak di dongeng-dongeng Disney. Tapi ternyata orang Polandia memilih kata Wina untuk membahasakan kesalahan. Mengapa oh Polski mengapaaaa????

Aku coba bahasa yang lain, nyatanya tak ada yang khusus menggunakan kata Wina untuk mengartikan sesuatu, kecuali orang Polandia.

Aku yakin orang tuaku pasti sama sekali tak tahu menahu kalau kata Wina dalam bahasa Polandia berarti kesalahan. Kalau tahu mungkin namaku jadinya Sophia atau Ummi Kulsum (nama-nama yang dipertimbangkan akan diberikan kepadaku dulu.. hahaha).

Tapi ini lah hidup, sering memberikan kejutan yang tak disangka.. kadang menyenangkan, kadang menyedihkan.

Kejutan yang ini, terus terang agak bikin sedih. Tetiba aku merasa seperti sebuah kesalahan yang berjalan di atas muka bumi ini, hanya sekedar karena namaku Wina.

Tetapi kejutan ini pun membuat ku berpikir. Kegiatan yang disukai kaum intelektual, berpikir… dan aku suka. Terutama kalau lagi ujian, selebihnya jarang.. sukanya bengong. Tidak apa-apa yang penting ada usaha.

Aku berpikir bahwasanya, kata itu memang sangat merepresentasikan kemanusiaan. Manusia tempatnya salah, tempatnya lupa, tempatnya berbuat dosa. Karena tidak ada yang punya kesalahan/dosa di muka bumi ini selain manusia. Mana ada batu berdosa? Kangkung berdosa? Atau botol coca cola berdosa? Tak ada. yang berbuat kesalahan/dosa itu ya hanya manusia, tak ada yang lain. Aku bicara tentang apa yang kasat mata, ya.. maaf nih yang asalnya dari dunia Goib ga disebut dulu.. jangan marah ye.

Aku manusia, dan pastinya pernah berbuat kesalahan. Melakukan aktivitas yang sudah diprediksikan oleh malaikat (membuat kerusakan di atas muka bumi, bahkan sampai ke dalam bumi pun dirusak pula). Katanya demi bisa hidup, padahal demi memuaskan keserakahannya akan materi.

Ahh.. kok jadi berat?

Begini, mungkin orang Polandia sengaja memakai kata Wina – untuk mengartikan kesalahan, sebagai cara mereka untuk membuatku tidak takabur (karena niat awalnya kan mau sombong) hahaha. Mungkin leluhur mereka tahu kalau di tahun 2014 akan ada seorang perempuan absurd yang iseng-iseng nyari arti kata “Wina” pake google translate

ohhh leluhur bangsa Polandia, kalian berhasil membuat ku tersentak!!! oh terima kasih!!

Terserah oh terserah. Hidup harus tetap berlanjut! hahahah

 

Semoga kesalahan ini tak melulu berbuat salah.

Maka aku tetap suka namaku. Hai Wina!❤

 

(btw kenapa jadi aku-kamu iyeu teh… eheeey geli)

maafin si gw ya yang lupa akan gw-lo (nah kan kesalahan.. oh Wina)

blank dan Ed Sheeran (a random post)

karena pada nyatanya kita hanya bisa mengira-ngira sambil berharap-harap cemas, namun hidup tak selalu membahagiakan. maka berbahagialah dengan sendirinya. jika mau, tak perlu menunggu.

 

apa kabar semua? baik? kurang baik? agak baik tapi tetap galau? tidak terlalu baik tapi ngakunya baik? ya terserah lah.. dirimu adalah hasil atas pencitraanmu pada dunia, sadar tidak sadar, begitulah😀

kehidupan semakin rumit bukan?

lebih kepada ngantuk daripada memikirkan rumitnya hidup.

lebih kepada ngantuk daripada memikirkan rumitnya hidup.

tiap harinya kamu terombang-ambing dalam rasa-rasa dan asa-asa yang kadang menggelitik, kadang menghujam, kadang semu.. tak terasa tapi kau tahu, ada yang berbeda denganmu, entah itu cara berpikirmu, cara menilaimu, atau bahkan cara berpakaianmu. manusia berubah, tapi rubah tak mungkin bermanusia, itulah hidup, kadang kita pikir tak adil. namun sungguh adil kok… kita saja yang kurang paham hingga lebih suka menghujat hidup daripada berusaha memberi penghidupan.

 

BLANK~~

Inilah aku akhir-akhir ini, seperti manusia yang baru di-instal ulang. Fresh tapi blank.

Mudah lupa akan berbagai hal yang harusnya tidak aku lupakan. Jadilah aku ini perlu yang namanya buku catatan, memo, reminder.. apalah itu namanya yang berbau “bantuan” bagi dia yang kurang mudah mengingat.

remind me ohhh, paper!

remind me ohhh, paper!

Jadilah aku seperti gadis yang berteman baik dengan pulpen dan kertas. Biasanya tidak.

Ada baiknya? tentu… karena ada pepatah yang mengatakan “waktu membuatmu lupa, tapi menulis membuatmu tetap ingat”. Karena itu menulis teramat membantu, kecuali ketika aku malas menulis. Maka masalah baru muncul. Bagaimana caranya aku agar tak malas menulis? akhirnya tak ada cara lain selain memaksakan menulis. Tak perduli (semestinya “peduli”, tapi kadang kita mengucap “perduli”) jenis font yang kupakai kacau balau, dan hasil tulisannya lebih seperti kode rahasia, yang hanya diriku sendiri yang bisa mengerti apa maksudnya. Aku pikir aku berbakat jadi intel jika begini.

 

ED SHEERAN

Perkenalkan: Ed Sheeran!

sederhana dan brilian = Ed

sederhana dan brilian = Ed

Lelaki yang lebih suka pakai sweater belel kemana-mana dengan rambut “ginger”nya yang catchy dan messy.

Aku belum begitu mengenal, dan memang tidak kenal pada pria bernama Ed Sheeran ini. Sungguh aku suka setiap karyanya (dia penyanyi dan penulis lagu), dan aku jatuh cinta. Jika yang kau maksud atas cinta adalah rasa kagum, kecanduan, suka dan gelitik hati yang ketika kau mendengar suaranya tetiba kau rasa “bahagia”. Nah berarti aku jatuh cinta pada Ed Sheeran.

Tidak, aku bukan perempuan obsesif yang tetiba posesif kepada manusia yang kini entah ada di mana, dengan siapa, makan apa.. maksudku aku bukan fangirl yang ingin menikahi idolanya dengan teramat sangat sampai kebawa mimpi. Bukan.. semoga :E

 

Well.. i loove reminder and Ed Sheeran!

sampai jumpa dan berbahagialah :) 

 

teman kesayangan :)

@winalesmana : “Yang bisa kuambil hikmah di hari ini: berbahagialah yang merasa memiliki teman, mereka adalah manusia-manusia yang baik ibarat keluargamu.”

 

siapa yang punya teman dan bahagia akan kenyataan itu?? kamu? kamu? oh ya itu kamu juga yang ada di balik kursi? semua senang punya teman? alhamdulillah.. maka berbahagialah aku, kamu dan kalian yang merasa dan mudah-mudahan memang kenyataannya punya yang namanya teman🙂

kemarin itu, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 13 April 2013, aku bertemu dengan teman-temanku dari KPM 44 yang sangat membahagiakan. walau memang kami baru setahunan ini berpisah tapi toh kangennya udah membuncah sampe tumpeh tumpeh. sayang, tidak lengkap, karena kadang jarak dan tugas negara lebih posesif dari pacar, ehhh, itu jugak kalo punya pacar. yeeeh.

jadilah momen reuni fakultas ekologi manusia kemarin kami jadikan lahan untuk menumpahkan segala kekangenan yang padahal udah sering juga ditumpahin di pertemuan-pertemuan sebelumnya. namun tetap saja, saat bertemu kembali, kami seakan sudah lama tak bertemu, berbagai cerita dari yang serius sampai yang ga perlu diceritain pun kami bagi bersama. hehe karena menurutku, seseorang bisa disebut teman ketika ia mau mendengarkan meski cerita yang diceritakan nyatanya tak penting-penting amat, bahkan mungkin tak penting sama sekali. tapi tetap sabar mau mendengarkan. ahahha

yihaaa!! source: http://instagram.com/p/YE7n5ADGVm/

kika: Anggi, Mabu, Wina, Ira, Ami

source: http://instagram.com/p/YE7n5ADGVm/

dari pertemuan yang hanya terhitung atas jam, kita tertawa hingga menitikkan air mata, kita sudah ingin bertemu lagi walau sebenarnya tangan masih saling bertaut, bahagia dan membahagiakan itulah kita🙂

 

maka ku bersyukur atas keberadaan kalian..

lottalove! :*

 

 

mengkomentari komentar

sebenarnya siapa itu pemikir? siapa itu pendobrak? siapa itu perintis? siapa itu manusia yang pintar, berakal, penuh pengetahuan?

 

kamu? aku?

 

bukankah aku dan kamu mendapat tiap predikat itu hanya karena persepsi belaka?

 

lalu terkadang ketika gaya pemikiran sudah teramat luar biasa, maka kita pun dengan mudah menghakimi, berkomentar, aahhhh mestinya begini, mestinya begitu, inilah dunia bro, itulah dirimu bro…

ah ya.. berkomentar demi kesenangan diri. toh sah sah saja bukan?

amat sangat sah, hingga aku pun berani menulis apa yang sedari tadi berkutat di otakku. aku juga mau berkomentar!

kita sama sama manusia yang tugas utamanya belajar, kita sama sama manusia yang hilaf lalu sadar lalu hilaf lagi dan itu sungguh urusanmu dengan Tuhanmu, kita sama sama manusia yang punya perasaan maka jagalah perasaan-perasaan manusia lain yang jumlahnya bermilyar di muka bumi ini, kita sama sama manusia maka aku tak punya hak untuk menghakimimu begitupun kamu, kecuali kamu hakim pegawai negeri dan aku maling ayam yang apes ditangkap warga.

 

ah.. cuma sekedar catatan yang tak perlu kau risaukan, teman.

 

karena sungguh aku sendiri sedang merisaukan diriku yang membuat catatan ini.

 

semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi di setiap helaan nafas yang baru.

lukisan dalam byte

“terkadang kita terdampar di keheningan diri yang kita anggap biasa padahal itu jauh dari biasanya.”

Gambar

captured by: Azizah

 

“kemurnian yang sesungguhnya adalah senyum para anak, kau takkan pernah bisa memalsukannya”

Gambar

captured by: Azizah

 

“aku menjelajah dalam alam mimpi, dan aku kira itu kenyataan”Gambar

captured by: Diadji

 

“ilmu yang tak bisa kau dapatkan di sekolahlah yang memanusiakan dirimu”

Gambar

 

captured by: Azizah

 

“hargai orang lain, sebelum minta dihargai”

Gambar

captured by: Roby

 

“berbahagialah, meski kadang melelah tak bisa ditawar lagi”

Gambar

captured by: camera itself

 

“ketika kita merasa hilang arah, sebenarnya kita mendekati arah yang benar”Gambar

captured by: Azizah

 

tidakkah kau pernah berpikir bahwa aku adalah kau? maka kau akan mengerti, setidaknya.

Djadin – Untuk Mentari

Semburat jingga menggantung di langit yang masih mengantuk, seperti senja… tetapi bukan, ini masih pagi, teramat pagi. Tubuhku menabrak udara dingin yang masih pekat dengan aroma malam. Bisa kulihat bulan mengintip malu-malu dari balik daun sukun, ia seperti enggan memberi kuasa pada mentari yang tengah beranjak dari balik bukit kapur.  Keduanya saling berhadapan, duduk di singgasananya masing-masing. Bulan memucat di langit barat dan mentari merona di langit timur. Seperti mau adu kekuatan saja, pikirku. Ah… atau bulan teramat merindu pada mentari, sampai-sampai melawan kodratnya, demi menatap sang pujaan barang sebentar saja. Sajian romantisme alam di pagi hari.. indah.

Suara rantai gigi sepeda tua-ku memecah keheningan pagi hari. Sesekali kurapihkan selendang bermotif bunga mawar peninggalan Ibuku, yang karena tiupan angin, tidak bisa diam di kepalaku. Kata bapak rambutku itu indah, jadi harus dilindungi dengan selendang, agar tidak cepat rusak. Padahal aku tahu dari Mbok Yem, Bapak memaksaku menggunakan selendang karena Bapak teramat taat pada agama. Tapi tak apa, aku suka selendangku, membuatku selalu ingat pada Ibu.

Continue reading