Merengkuh Diri

Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ibu saya seorang PNS guru sekolah dasar. Bapak saya seorang satuan pengamanan (satpam). Saya lahir di sebuah kampung di Kota Bogor, bernama Cijahe. Ya saya lahir di kampung itu, tepatnya di rumah orang tua saya, dengan bantuan seorang dukun beranak bernama Emak ‘Ra.

Saya menjalani masa SD saya dengan bahagia dan ceria di SDN Cijahe. Di mana teman-teman sekolah saya adalah tetangga saya, sama-sama anak kampung. Kondisi ekonomi keluarga kami pun sama-sama pas-pasan.

Masa SD bisa dikatakan masa yang paling tidak ada beban bagi saya. Ya tidak heran, apa sih yang mau dipikirkan seorang anak SD? Apalagi untuk ukuran anak guru dan satpam seperti saya, di mana kondisinya meski pas-pasan namun bisa dikatakan masih di atas rata-rata dibandingkan kebanyakan teman saya yang orang tuanya buruh serabutan. Setidaknya saya masih bisa jajan tiap harinya.

Lulus dari SD, saya diterima di SMPN 4 Bogor. Salah satu sekolah favorit di Bogor. Ketika diterima, saya senang bukan kepalang. Saya membayangkan kerennya diri saya ketika menggunakan seragam putih-biru dengan badge (baca: bet) lokasi SMPN 4 Bogor yang dijamin bakal terlihat mentereng. SMPN 4 Bogor boi. Sekolah negeri… favorit pula. Tidak sembarang anak bisa diterima di sekolah itu. Hebat kamu Wina, pikir saya saat itu.

Hari pertama belajar di SMP, saya dibuat terperangah dengan banyaknya teman-teman saya yang diantar-jemput mobil pribadi. Di situ, saya mulai mengetahui bahwa teman-teman saya kebanyakan berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas. Orang kaya.

Tidak hanya sampai di situ saya dibuat terperangah. Dari teman sebangku saya lah pertama kalinya saya melihat handphone. Saya ingat waktu itu dia membawa hp Nokia berwarna merah. Tipe hp-nya apa saya tidak tahu menahu, karena boro-boro pegang, melihat dari jarak satu meter saja sudah membuat saya takjub setengah mati. Saat itu saya bertanya-tanya se-kaya apa teman sebangku saya ini sampai bisa bawa handphone ke sekolah? Harga barang itu bisa jadi setara dengan jumlah gaji Ibu saya beberapa bulan.

Saya cukup shock ketika mendapati kenyataan bahwa teman sebangku saya, seorang anak SMP seumuran saya, sudah bisa membawa barang mewah ke sekolah. Sedangkan pada saat itu di Cijahe, rumah yang memasang pesawat telepon saja masih jarang. Saya jadi ingat, bisa berkomunikasi lewat telepon umum saja anak kampung macam saya sudah bangga. Padahal nyambungnya kepada orang yang tidak kami kenal, wong nomor yang dipencet saja ngasal. Yang penting ada yang jawab, ada yang berkata “halo” di ujung sana, kami sudah senang.

Kejadian-kejadian itu membuat saya sadar bahwa saya berada di lingkungan yang  jauh berbeda dari lingkungan semasa SD dulu. Dan mulai dari situ saya merasakan ada yang berbeda dari diri saya. Saya mulai tidak merasakan nikmatnya pergi sekolah.

Kemudian keadaan tak membaik, Bapak tidak bekerja, beliau menganggur. Saya makin tertekan. Malu akan kenyataan. Kenyataan bahwa Bapak saya menganggur.

Seakan apa-apa yang saya khawatirkan terwujud, suatu saat Wali Kelas saya bertanya, “Ayah Wina pekerjaannya Apa?”, saya berat untuk menjawab. Mulut saya sulit untuk sekedar menyampaikan kalimat “Bapak saya sedang tidak bekerja”. Saya tidak mau diberi label sebagai anak penganggur. Namun, saya tidak bisa mengelak.

Nyatanya pertanyaan Wali Kelas saya tempo hari bukan hanya pertanyaan kosong. Atas jawaban saya, saya dipanggil ke ruang guru. Di sana saya diberi beberapa lusin buku tulis secara gratis oleh pihak sekolah. Gratis, karena pihak sekolah mengkategorikan saya sebagai salah satu murid dari keluarga tidak mampu.

Batin saya menolak. Saya merasa keluarga saya masih mampu membiayai saya. Meski ekonomi kami pas-pasan, meski Bapak saya menganggur, tapi saya bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Saya tidak pantas untuk menerima buku tulis itu. Atau mungkin lebih tepatnya saya tidak sudi untuk menerimanya.

Harga diri saya berkecamuk. Satu sisi saya tidak terima akan niat baik sekolah. Tapi di sisi lain saya tidak memiliki daya untuk berontak karena saya hanya seorang bocah submisive dengan gengsi gede. Gila, hati dan otak saya tawuran saat itu.

Dengan berat hati, saya terima buku tulis cuma-cuma itu kemudian kembali ke kelas dengan langkah yang ragu. Saya tidak mau teman-teman sampai tahu kalau saya mendapat buku tulis gratisan dari sekolah. Harga diri saya ternoda buku tulis gratisan itu. Sesampainya di kelas, seorang teman penasaran akan lusinan buku yang saya bawa, dia bertanya darimana saya mendapatkannya. Tak bisa menghindar, saya pun menjawab bahwa saya mendapat buku tulis dari sekolah. Ia kemudian menimpali jawaban saya dengan berkata, “wah enak banget dapat buku“. Enak banget? Enak katamu? saya hampir gila karena malu dan kau bilang enak? Gila!

Selanjutnya, saya berangkat ke sekolah dengan hati yang risau. Saya ingat sempat menangis ketika di angkot menuju sekolah. Saya ingin pindah sekolah. Saya merasa tidak cocok sekolah di sana. Saya hanya seorang anak kampung dari keluarga pas-pasan yang tidak akan pernah merasa satu level dengan teman-teman kaya saya di sekolah.

Semenjak itu saya punya sentimen tersendiri kepada anak-anak yang hidupnya serba berkecukupan. Saya anggap mereka sombong. Mereka tidak akan menerima saya untuk jadi teman mereka. Saya sudah melabeli mereka sebelum mengenal mereka lebih jauh.

Saya menjadi anak yang sering mengkambinghitamkan keadaan atas apa yang saya rasakan.

Kemudian saya mantap untuk memiliki moto hidup. Moto hidup yang akan saya sampaikan dengan lantang jika ada yang bertanya, yaitu: “hargai orang lain seperti kamu ingin dihargai”. Itulah moto hidup saya saat itu.

Mungkin Anda tidak merasa ada yang salah dari moto tersebut. Ya memang tidak ada yang salah. Tapi saya tahu apa makna yang saya selipkan dibalik moto itu.

Lewat moto hidup itu sebenarnya saya mengemis kepada orang-orang untuk lebih menghargai saya.

Saya yakin orang-orang di sekitar saya tidak akan menghargai saya karena saya hanya seorang anak kampung, anak dari seorang Bapak yang menganggur, anak dari keluarga pas-pasan.

Atas keyakinan saya itu, saya menyalahkan teman-teman saya yang kaya, saya menyalahkan Bapak saya, saya menyalahkan sekolah saya, saya menyalahkan keadaan.

Padahal satu-satunya yang salah adalah… saya.

Karena saya belum bisa menghargai diri saya sendiri. Saya belum bisa mencintai diri saya dengan layak. Saya belum bisa menerima kondisi saya dengan ikhlas.

Bicara di masa kini memang lebih mudah, daripada ketika menjalaninya di masa lalu.

Saya akui Wina remaja nampaknya memang lebih suka bergumul dengan kegelisahannya seorang diri. Tidak ada dalam kamusnya untuk menceritakan rasa sedihnya kepada orang lain. Dia ingin terlihat tangguh di mata siapa saja, padahal sesungguhnya dia butuh rengkuhan untuk menenangkan batinnya.

Jika saya bisa kembali ke masa itu, saya ingin merengkuhnya. Merengkuh diri saya sendiri dan berkata, “kamu tak perlu orang lain untuk meyakinkan betapa berharganya dirimu, Wina.”

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s