Adil Sejak dalam Pikiran

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

Pramoedya Ananta Toer

Mengaca kepada apa yang telah saya alami, dan apa yang terjadi di sekitar saya, ‘adil sejak dalam pikiran’ nampak seperti mantra tak bertuah. Kosong, tak menarik, hanya tagline semata.

Adil sejak dalam pikiran.

Adil kepada siapa?

Dalam pikiran siapa?

Ya.. mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab “Adil pada sesama, Win”, lalu yang lainnya karena merasa sensitif dengan kata-kata yang menunjukkan identitas macam ‘sama’, ‘beda’ serta sejenisnya akan menjawab “Adil pada semua orang, tak hanya kepada yang sama, Win”.

Untuk pertanyaan kedua -dalam pikiran siapa?- perkiraan saya, mayoritas akan menjawab “Dalam pikiran kita”.

Betul kawan, aku setuju, seratus persen.. setuju.

Idealnya memang begitu.

Kita dapat adil kepada semua orang bahkan sejak di pikiran. Idealnya begitu, Win.

Dan… klise, mempraktekannya tak semudah mengatakannya.

Memangnya kamu sudah coba, Win?

Sudah.. dan susah.

Ketika prasangka sudah memakan rasa dalam diri, untuk melihat secara adil dan bebas nilai nampaknya sulit. Seperti ketika memakai kacamata hitam, ketajaman indra penglihatan kita terhadap warna-warni di sekitar menajdi berkurang. Mata kita tak bisa melihat warna dengan “adil”, dengan apa adanya. Kacamata hitam akan “menutupi” warna yang sesungguhnya.


Saya adalah manusia yang cukup banyak memikirkan apa yang orang pikirkan akan diri saya.

Dan banyak kali -tidak hanya sesekali-, saya merasa tidak diperlakukan adil oleh orang-orang di sekitar saya.

Rasa tidak dihargai, tidak dianggap, tidak diperhatikan, tidak diperlukan, tidak disukai, tidak diperhitungkan, tidak dihormati dan banyak rasa tidak mengenakkan lainnya pernah saya cicipi.

Lalu dengan hati pedih, saya berkata “Ya Tuhan, mengapa mereka begini kepada saya? saya berusaha menjadi teman/ kolega/ keluarga yang baik, tapi ini yang mereka lakukan kepada saya. Ya Tuhan, ini tidak adil”.

Saya berteriak dalam diam sambil menyodorkan hati yang nyeri. Ingin dikasihani.

Tapi, apakah benar mereka yang tak adil pada saya?


Adil sejak dalam pikiran.

Andai kita semua bisa melakukannya, ah…

Tapi ya.. mari berandai-andai.

Andai kita semua bisa melakukannya, berarti do’a-do’a para pesakitan yang ingin sembuh dari penyakit hati telah dikabulkan.

Karena hati yang sakit, dapat menutupi pikiran, membuatnya tak adil dalam melihat.

.

.

Di akhir catatan ini, saya berdo’a, masih dengan do’a favorit sejak saya remaja,

“Ya Tuhan sembuhkan hamba dari segala penyakit hati.”

.

.

Jika hingga kini hati saya belum juga sembuh, mungkin Tuhan belum kabulkan… atau semata-mata saya yang tak mau sembuh.

.

.

Ah Wina. Bagaimana bisa adil?

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s