Sekar: Bukan Epilog

Aku ini memang kolot, aku masih percaya akan dongeng tentang pangeran tampan berkuda putih yang akan menjemput kekasihnya. Merasa seperti si Putri tak berdaya yang hanya mampu mendendangkan kidung-kidung cinta selama ia menunggu pujaan hati datang untuknya, ia tak punya daya untuk mencari jalan keluar dari kastil Penyihir Jahat untuk sekedar berkata cinta pada Sang Pangeran Tampan. Sangat kolot, hingga sering dipandang konyol oleh banyak orang. Ya itulah aku.

Lelaki itu masih orang yang sama sejak enam  tahun yang lalu. Seorang lelaki yang membuatku bahagia karena ada satu orang yang menyadari keberadaanku di saat aku merasa sendiri di lingkungan sekolah yang masih asing bagi diriku. Aku masih ingat dialog pertamaku dengannya, “Sekar, kamu sakit?” tanyanya kepadaku yang tetap saja berada di dalam kelas ketika jam istirahat datang. Aku lumayan terkejut, saat dia tahu namaku – karena sebenarnya aku sendiri lupa namanya – perkenalan singkat saat Masa Orientasi Siswa sama sekali belum berhasil bagi otakku yang pelupa dalam hal ingat-mengingat nama orang.

Keterkejutan itu tak sampai membuatku mencinta seperti orang gila, sama sekali tidak. Saat itu aku berpikir bahwa lelaki ini punya ingatan yang super canggih, mungkin dia selalu mengkonsumsi suplemen penambah daya ingat setiap habis sarapan. Tapi ternyata tidak, ingatannya tidak secanggih itu, ketika ada permainan “menyebutkan nama teman” di jam pelajaran yang di isi bimbingan konseling, Ia hanya mampu menyebutkan 11 nama murid, 10 laki-laki dan 1 perempuan, dan perempuan yang berhasil mendapat satu tempat dalam ingatannya adalah aku,  Sekar Wulandari.

Semenjak itu aku memperhatikannya dan aku tenggelam dalam keindahan-keindahan dari seorang lelaki sederhana yang memiliki tawa indah dengan kecerdasan khas pemuda Yogyakarta, dia lah dia, yang sudah membuatku men-dungu untuk enam tahun lamanya, Narendra Wijaya. Kini dia berkuliah di Yogya, di tanah kelahiran ayahandanya. Aku tak pernah berani bertanya akan kabarnya, apalagi mengungkapkan rasa yang aku pendam selama ini, aku adalah pecundang sejati dalam hal demikian.  Rendra pun tak pernah memberi kabar, mungkin dia lupa padaku, lupa pada perempuan yang namanya ia ingat betul pada permainan enam tahun silam.

Terkadang aku menganggap bahwa hidupku ialah sebuah ironi, aku adalah perempuan yang mengagungkan kekritisan, aku suka berdebat, mengungkapkan argumenku, aku tidak suka terpaku dalam pakem tradisional masyarakat bahwa seorang wanita harus lemah lembut dan kemayu. Aku berani angkat bicara atas semua gagasanku, tapi di lain pihak aku adalah penganut keras kepala atas paham “perempuan harus menunggu”. maka kondisi kisah cintaku tak ubahnya seperti keadaan di ruang tunggu klinik 24 jam, menyedihkan.