Djadin – Untuk Mentari

Semburat jingga menggantung di langit yang masih mengantuk, seperti senja… tetapi bukan, ini masih pagi, teramat pagi. Tubuhku menabrak udara dingin yang masih pekat dengan aroma malam. Bisa kulihat bulan mengintip malu-malu dari balik daun sukun, ia seperti enggan memberi kuasa pada mentari yang tengah beranjak dari balik bukit kapur.  Keduanya saling berhadapan, duduk di singgasananya masing-masing. Bulan memucat di langit barat dan mentari merona di langit timur. Seperti mau adu kekuatan saja, pikirku. Ah… atau bulan teramat merindu pada mentari, sampai-sampai melawan kodratnya, demi menatap sang pujaan barang sebentar saja. Sajian romantisme alam di pagi hari.. indah.

Suara rantai gigi sepeda tua-ku memecah keheningan pagi hari. Sesekali kurapihkan selendang bermotif bunga mawar peninggalan Ibuku, yang karena tiupan angin, tidak bisa diam di kepalaku. Kata bapak rambutku itu indah, jadi harus dilindungi dengan selendang, agar tidak cepat rusak. Padahal aku tahu dari Mbok Yem, Bapak memaksaku menggunakan selendang karena Bapak teramat taat pada agama. Tapi tak apa, aku suka selendangku, membuatku selalu ingat pada Ibu.

Continue reading