STRATEGI SEKOLAH DALAM MEMBEKALI SISWA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan faktor yang menentukkan kecerdasan suatu bangsa, melalui pendidikan manusia akan dibekali ilmu pengetahuan dan pengajara twentang kehidupan yang mencakup banyak hal seperti afektif, psikomotor, dan kognitif. Sebagai salah satu cita- cita nasional yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa maka proses pencerdasan inipun dapat dilakukan melalui jalur pendidikan firmal maupun non formal. Upaya pencerdasan melalui pendidikan non formal dapat diperoleh melaui pengalaman yang sifatnya empiris dan dapat memberikan pengajaran hidup yang bermakna apalagi ada pepatah yang mengatakan “Pengalaman adalah guru terbaik”. Di samping itu, pencerdasan melalui pendidikan formal harus pula dijalankan, apalagi mulai tahun 1984 telah diwajubkan pendidikan 9 tahun untuk setiap masyarakat sehingga pendidikan menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan masyarakat.

Adanya sekolah sebagai sarana untuk mendapat pendidikan formal dirasa penting untuk memberikan mutu pendidikan dalam hal pengembangan sumber daya manusia. Sekolah sebagai suatu system dalam kehidupan masyarakat memiliki fungsi dan mempengaruhi satu sama laindalam rangka mencap tujuan. Oleh karena itu sekolah harus ditunjang oleh sarana dan prasarana serta SDM ahli yang menunjang proses belajar mengajar guna membekali siswa dalam menghadapi era globalisasi.

Kemajuan teknologi, komunikasi, dan transportasi telah membuat seluruh dunia bagaikan desa global. Jauhnya jarak antar bangsa tak lagi menjadi hambatan karena semuanya dapat diakses dengan mudah. Era globalisasi menuntut setiap bangsa khususnya Indonesia untuk mampu bersaing namun dalam konteks pendidikan harus banyak dibenahi. Manajemen pendidikan di Indonesia masi bersifat birokratis sehingga masalah pendidikan lambat penanganannya ditambah dengan metode pengajaran dan materi pendidikan yang harus tetap dievalusi dan diperbaiki ke arah yang lebih baik.

Globalisasi menuntut adanya perubahan paradigma dalam dunia pendidikan. Dan untuk melakukan itu semua, diperlukan peranan manajemen sekolah melalui strategi sekolah yang dapat menciptakan sekolah yang bermutu sehingga mamapu membekali siswanya di era global ini. Peningkatan kompetisi, pilihan, dan tuntutan masyarakat mempengaruhi pendidikan saat ini. Pendidikan di Indonesia perlu mendapat pengaturan dan standarisasi untuk memenangkan kompetisi dan peningkatan mutu terus menerus (Syafaruddin, 2002). Oleh karena itu, manajemen sekolah harus mampu mencakup hal yang bisa meningkatkan kreativitas, inovasi, dan modernisasi bagi kemajuan pendidikan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui:

  1. Sejarah, visi, dan misi SMK Adi Sanggoro sebagai sekolah kejuruan yang bisa bertahan di tengah banyaknya sekolah kejuruan yang ada

b. Strategi SMK Adi Sanggoro dalam hal manajemen sekolahnya yang mencakup masalah proses belajar mengajar.

  1. Upaya yang dilakukan SMK Adi Sanggoro dalam membekali siswanya menghadapi era globalisasi.

1.3 Ruang Lingkup

Dalam mendapatkan data yang akan kami gunakan dalam pembuatan makalah ini adalah mengupas dan menjelaskan bagaimana strategi sekolah dalam membekali siswa menghadapi era globalisasi. Sekolah yang kami pilih adalah sekolah yang memiliki kriteria yang mampu menunjang data yang kami inginkan, terutama sekolah kujuruan karena sekolah kejuruan mampu membekali siswa dalam skill atau keterampilan khusus sehingga siap bekerja, maka kami memilih Sekolah Menengah Kejuruan Adi Sanggoro di Dramaga.

Sekolah Menengah Kejuruan Adi Sanggoro berlokasi di Darmaga Kabupaten Bogor dekat dengan kampus IPB. Sekolah yang berorientasi pendidikan dan pembelajarannya pada survey dan pemetaan ini merupakan sekolah kejuruan yang cukup menarik untuk dijadikan objek dalam pengambilan data. Ruang lingkup yang menjadi pusat perhatian kami adalah dalam hal strategi sekolah untuk mempersiapkan siswanya menghadapi era global yang mencakup penerapan manajemen sekolah yang baik, sarana dan prasarana yang menunjang hingga skill yang mampu diberikan sekolah pada siswanya untuk siap kerja dan mampu bersaing di era globalisasi ini.

II. PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Berdiri Sekolah

Sejak terbentuknya Badan Koordinasi Survey Pemetaan Nasional (BAKSOTURNAL) pada tanggal 17 Oktober 1969 melalui Keppres No. 83 Tahun 1969, bidang survei dan pemetaan berikut otput yang yang produksinya, telah memegang peranan strategis dalam perjuangan pembangunan nasional, berkelanjutan di segala sektor/bidang. Berbagai pihak terkait dan berkepentingan di dalamnya mulai dari dinas atau lembaga atau insatansi Pemerintah, Perguruan Tinggi, Swasta (investor) maupun Masyarakat (pertanahan)

Pada era otonomi daerah kebutuhan dalam bidang survei dan pemetaan akan semakin meningkat. Bidang survei dan pemetaan. Bidang survei dan pemetaan mencakup berbagai sektor yang terkait dengan pemberdayaan potensi sumber daya alam (SDA). Pembangunan dalam arti fisik, serta sebagai bahan kebijakan dan pedoman dalam proses perperencanaan pengelolaan sumber daya alam (SDA) , pelaku pembangunan membutuhkan informasi yang merujuk kepada PETA ( dalam arti lokasi, batas, luas, isi dan distribusinya) serta SDM yang menguasai ilmu dan teknologi bidang survei atau pengukuran dan Pemetaan http://www.smkadisanggoro.co.id).

2.1.1 Sejarah SMK Adi Sanggoro

Mengingat bahwa ketersediaan SDM tingkat menengah bidang survei dan pemetaan, baik kualitas maupun kuantitasny dirasakan masih sangat terbatas. YAYASAN ADISANGGORO pada tahun 1996 mulai mendirikan SMK Adi Sanggoro program studi Survei dan Pemetaan (Sumberdaya Alam dan Lingkungan). SMK Adi Sanggoro, tahun 1997 berrdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departement Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat No. 678/I02.1/Kep/OT/97. Pada tahun 2000, telah terakreditasi dengan jenjang “Diakui” berdasarkan Surat Keputusan DirekturJenderal Pendidikan Dasar dan menengah Nomor 79/C.C7/Kep./PP/2000.

Melihat prospek dan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih akhir- akhir ini, maka mulai tahun Ajaran 2003/2004 SMK Adi Sanggoro Mulai membuka program studi baru yaitu program studi Tehnik informatika yang mendapatkan izin prinsip melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Nomor 421.3/3142/Kpts Tanggal 25 Maret 2004. Dengan demikian terdapat dua program studi yang di selenggarakan oleh SMK Adi Sanggoro yaitu Program studi survei dan Pemetaan (sekarang memasuki angkatan ke -9) dan Program Studi Tehnik informatika (sekarang memasuki angkatan ke-3).

2.1.2 Visi dan Misi SMK Adi Sanggoro

:::Visi:::….

Visi pendidikan yang diselenggarakan SMK Adi Sanggoro adalah membentuk Insan Mandiri, Cerdas, Terampil, Profesional, beriman dan bertaqwa.

….:::Misi:::….

Misi pendidikan yang diselenggarakan SMK Adi Sanggoro adalah mencetak tenaga kerja tingkat menengah yang mampu bekerja mandiri, memiliki pengetahuan, menguasai keterampilan dan sikap profesional dalam mengembangkan ilmu dan teknologi bidang survai, Pengukuran dan Pemetaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan serta bidang Teknologi Informatika.

2.2 Sistem Manajemen Sekolah

2.2.1 Pengertian Sistem

Sistem adalah suatu keterpaduan atau kebulatan yang kompleks atau kombinasi dari berbagai bagian bersifat kompleks atau kesatua yang bulat. Dengan kata lain, suatu sistem merupakan keterpaduan dai berbagai bagian membentuk satu kesatuan. Sehingga, tata kehidupan manusia merupakan suatu sistem karena di dalamnya ada sejumlah komponen yang memiliki fungsi dan mempengaruhi satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan sistem.

Sistem dibagi dua jenis, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Suatu sistem terbuka menukar material dan energi dengan lingkungannya, sedangkan sistem tertutup adalah mengisi sendiri dan tidak dipengaruhi oleh sistem lain atau lingkungannya. Sistem terbuka mempunyai hubungan relasi dengan lingkungannya sedangkan sisitem tertutup tidak mempunyai relasi dengan lingkungannya.

2.2.2 Pengertian Manajemen

Manajemen dapat diartikan sebagai suatu proses pengkordinasian kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut terseleksi secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. Efisiensi mengacu pada memperoleh hasil dengan kemubaziran rendah sedangkan efektif menyelesaikan kegiatan-kegiatan sehingga sasaran organisasi dapat tercapai.

Dalam manajemen, fungsi yang lazim ada empat, yakni merancang, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan. Fungsi-fungsi ini mengarah pada pencapaian tujuan yang telah dinyataka oleh oragnsasi.

2.2.3 Sistem Manajemen Sekolah

Manajemen pendidikan di sekolah merupakan proses aplikasi fungsi manajemen dalam melaksanakan proses pengajarna dan pembelajaran utnuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah, peranan kepala sekolah sebagai manajer dalam menjalankan manajeme pendidikan sangat menetukan pencapaian tujuan dengan dukungan sumber daya personel, materi, finansial, dan lingkungan masyarakat. Sehingga pendidikan merupakan sisitem terbuka bukan hanya sekedar sekolah formal, tetapi juga merupakan sekolah non formal dimana aktivitas di luar sekolah yang diorganisasikan oleh berbagai macam lembaga umum dan swasta.

Sekolah sebagai sosial berfungsi dalam mengintegralkan semua subsistem yaitu tujuan dan nilai organisasi, teknik, psikosiosial, struktural, dan manajerial. Sekolah dalam menyusun tujuannya maupun penggunaan pengetahuan untuk menjalankan tugas sekolah, yaitu pengajaran dan pembelajaran sesuai dengan tuntutan keperluan masyarakat. Kepala sekolah sebagai pimpinanberperan sebagai pemimpin, pendidik, pengawas, dan pendorong bagi guru-guru dalam proses kepemimpinanya.

Untuk menjalankan kegiatan sekolah guna mencapai tujuan yang telah tertera dalam visi misi sekolah, dan pengharapan masyarakat maka sekolah memfungsikan manajemen baik dalam perencanaa, pengorganisasian, maupun pengawasan bagi terjaminnya kelancaran tugas, kinerja tinggi, pelayanan siswa, dan ornag tua secara baik sehingga mengeluarkan lulusan sebagaimana diharpakan masyarkat.

Berbicara masalah sistem sekolah maka tidak akan lepas dengan kurikulum yang diterpakan sekolah. Dengan kurikulum yang tepatlah, sekolah dapat mencapai tujuannya. Pemerintah sudah beberpa kali mengganti kurikulum dengan harapan, output yang dihasilkan lebih baik dan sesuai harapan serta kebutuhan masyarakat. Sejak berdiri taun 1997, SMK Adi Sanggoro telah mengalami tigakali pergantian kurikulum. Saat pertama kali berdiri menggunakan kurikulum 1995, kurikulum 1999, kurikulum berbasisi kompetensi (KBK), dan kurikulum tingkat satu pendidikan (KTSP). Kurikulum KTSP merupakan kelanjutan dan pembenahan dari kurikulum sebelumnya yang memperdayakan keaktifan siswa dalam melakukan proses pembelajaran dan pengajaran.

Pada kurikulum 1999, penilaian dilakukan dengan melihat pada parameter kognitif dan nilai hasil belajar di laprkan dalam sebuah buku laporan dengan satu pelajaran memilik satu nilai yakni aspek kognitif. Pada kurikulum berbsisi kompetensi (KBK), penilaian dilakukan pada tiga aspek, yakni aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Sehingga satu mata pelajaran diperoleh tiga buah nilai yang berbeda. Sedangakan pada kurikulum tingkat satu pendidikan (KTSP), mata pelajaran dibagi menjadi empat jenis program, yaitu normatif, adiptif, produktif dan muatan lokal. Program normatif terdiri dari mata pelajaran pendidikan agama Islam, bahasa Indonesia, pendidikan kewarganegaraan, seni budaya, dan pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Untuk program adiptif mata pelajaran yang diberikan berupa, matematika, bahasa Inggris, fisika, kimia, kewirausahaan, keterampilan komputer dan pengelolaan informasi (KKPI), ilmu pengetahuan alam (IPA), dan ilmu pengetahuan sosial (IPS).

Mata ajaran program produktif disesuaikan dengan bidnag keahlian masing-masing. SMK Adi Sanggoro saat ini memiliki dua buah bidang kehalian, pertama bidang keahlian teknologi informasi dan komunikasi dengan program kehalian rekayasa perangkat lunak, dan kedua bidang teknik geodesi dan geomatika dengan bidang keahlian teknik survei dan pemetaan. Untuk program keahlian rekayasa perangkat lunak (RPL), mata pelajaran yang diberikan berupa algoritma dan pemograman, desain dan animasi, dasar-dasar web, PPDSO, microsoft office, jaringan computer, SIG. Sedangkan untuk bidang keahlian teknik survei dan pemetaan, mata pelajaran yang diberikan berupa pekerjaan dasar survai (PDS), menggambar teknik dasar, kartografi, microsoft office, survei potensi, sisitem informasi geografi.

Sedangkan untuk program muatan lokal diajarkan pelajarna berupa bahasa Sunda dan khusus untuk bidang keahlian teknik survei dan pemetaan ditambahkan pendidikan lingkungan hidup.

Selain itu, untuk kurikulum KTSP, hasil laporan KBM sisiwa permata pelajaran tidak hanya satu nilai secara rata-rata tetapi setiap standar kompetensi memiliki nilai yang berbeda dalam satu mata pelajaran. (contoh kartu hasil studi dapat dilihat lampiran).

Tidaklah sama manajemen sebuah perusahaan yang memproduksi barang-barang atau hasil industri dengan manajemen sekolah yang fokus utamanya adalah pembinaan potensi mausiawi. Sehingga sekolah harus lebih berfokus pada jasa pelayanan yang menggunakan hubungan antara manusi. Salah satu bentuk pelayanan pihak sekolah memberikan pemberlajaran yang berkuakitas dan sesuai kebutuhan sisiwa sesuai bidang keahliannya Pemberian mata pelajaran di atas di sesuaikan dengan kurikulum dan petunjuk pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Nasional. Akan tetapi, mata ajaran untuk prograk produktif diberikan oleh sekolah sesuai dengan bidang keahliannya dan kebutuhan di masyarakat. Sehingga tujuan organisasi, menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap pakai di dunia kerja dapat terealisasikan.

Selain proses pembelajaran dan pengajaran yang dilakukan di dalam ruangn kelas, juga dilakukan di praktek di laboratorium dan praktek kerja lapangan (PKL) untuk meningkatkan skill peserta didik. PKL dilakukan selama satu smester pada semester 5 (lima) ke instansi atau perusahaan baik negeri maupun swasta. Tempat PKL sisiwa SMK Adi Sanggoro diantranya BPN Jakarta Barat, Fahutan IPB, PT. Antam, BPT, PT. Jaya Naga Bekasi, BBSDLP Bogor, Telkom Satelit Palapa, Telkom Pusat Bogor, Depertemen LIPI Bogor, LSM Prosea, STPP Pasir Kuda Bogor, LPPM MUI Bogor,dan PT. Adi Sanggoro.

Lulusan dari SMK Adi Sanggoro dengan bidang keahlian teknik survei dan pemetaan berhasil diserap tenaga kerja 80%-90%. Karena kebutuhan tinggi sementara jasa penyedian tenaga kerja yang ahli kurang, sehingga masih cukup potensial untuk dikembangkan. Sementara utntuk bidang keahlian rekayasa perangkat lunak, banyak yang melanjutkan keperguruan tinggi karena saingannya bukan lulusan sesama SMK tetapi lulusan perguruan tinggi. Akan tetapi ada juga yang langsung diserap sebagai tenaga kerja walaupun bukan sebagai programer.

Dengan adanya perpaduan proses belajar dan mengajar di ruang kelas, praktikum di laboratorium, dan pratek kerja lapangan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang potensial dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga dapat bersaing di dunia kerja pada era globalisasi ini.

2.3 Pembekalan Siswa Menghadapi Era Globalisasi

2.3.1 Pendidikan di Tengah Globalisai

Perkembangan teknologi telah mengakibatkan perubaan yang bear dalam kehidupan masyarakat. Perubahn itu hamper mencakup semua aspek kehidupan seperti sosial,politik, ekonomi, budaya bahkan pendidikan. Untuk menjawab tantangan globalisasi ini, semua Negara dituntut untuk memiliki SDM yang berkualitas. Isu globalisasi yang gencar dengan tuntutan implementasi ide-ide demokratisasi, penggunaan IPTEK yang canggih, pemeliharaan lingkungan hidup dan penegakan hak asasi manusia (HAM), hanya mungkin terjawab oleh SDM yang bermutu dan memiliki integritas dan professional. Dengan kata lain, perbaikan mutu menjadi paradigm baru pendidikan kedepan.

Peralihan era industri ke era informasi telah menimbulkan hubungan yang berlawanan. Manajemen pendidikan yang lebih birokratis, lambatnya penanganan persoalan pendidikan , kepimpinan, strutur tugas, komunikasi, kerjasama yang kurang kondusif pada era industri beralih kepada otonomi, kepemimpinan partisipatif, dan mandiri di era informasi.

Di Indonesia, pendidikan saat ini berada dipersimpangan jalan. Disatu sisi, sebagian masyarakat menerima pendidikan tengah dalam era agrari, sebagian lagi di era industry, bahkan ada masyarakat yang langsung masuk ke era informasi. Masyarakat desa dan pinggiran kota yang dililit kemiskinan tentu mengharapkan pendidikan yang murah dan berpihak kepada mereka. Smentara itu, masyarakat kota intens terhadap pendidikan yang mahal dengan alas an peningkatan mutu pendidikan. Persoalan ini mengakibatkan sulitnya membuat kebijakan nasional jika tidak diurus secara professional.

Dalan momentum besrnya tantangan terhadap masa depan di era globalisasi, tampaknya dunia pendidikan kita kurang siap. Berdasarkan laporan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berkedudukan di Hongkong, diungkapkan bahwa system pendidikan Indonesia adalah yang terburuk di Asia Pendidikan di Indonesia hanya mendapat tingkat 12 dibawah Vietnam, sedangkan ranking pertamanya adalah Korea Selatan. Di tingkat perguruan tinggi, mutu pendidikan masih kalah dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, dan Fililpina. Dilihat dari aspek lain, masih banyak peserta didik gagal sekolah, lamanya penyelesaian studi mahasiswa lulusan perguruan tinggi, lamanya memperoleh pekerjaan bahkan menjadi pengangguran, dan rendahnya gaji para lulusan sekolah merupakan indicator lain betapa rendahnya mutu pendidikan kita.

Ada empat faktor yang menghambat peningkatan mutu pendidikan di Indonesia:

  1. Kompleksitas pengorganisasian pendidikan dasar antara Depdiknas (bertanggung jawab dalam hal materi pendidikan, evaluasi buku teks, dan kelayakan bahan-bahan ajar) dan Depdagri dalam bidang ketenagakerjaan, sumber daya material dan sumber daya lainnya. Disamping itu, Depag bertanggung jawab dalam membina dan mengawasi sekolah-sekolah keagamaan negri maupun swasta. Dualisme ini berakibat fatal karena rancunya pembagian tanggung jawab, dan peranan manajerial, keterlambatan dan terpilahnya system pembiayaan, serta perebutan kewenangan atas guru.
  2. Praktik manajemen yang sentralistik pada tingkat SLTP. Pembiayaan dan perncanaan oleh pemerintah pusat yang melibatkan banyak departemen. Hal itu menghambat pencapaian tujuan wajib belajar pendidikan dasar.
  3. Praktik penganggaran yang terpecah dan kaku. Kompleksitas organisasi yang menyiapkan anggaran pembangunan menjadikan rumitnya pengelolaan pendidikan dasar. Akibatnya, hal ini menimbulkan dampak negative, yaitu tidak adanya tanggung jawab yang jelas antar unit, tidak ada evaluasi regular terhadap kebutuhan riil, dan tidak ada jaminan dana yang dialokasikan secara benar dan merata.
  4. Manajemen sekolah yang tidak efektif. Sebagai pelaku utama, kepala sekolah banyak yang kurang mampu melakukan peningkatan mutu sekolahnya karena tidak dilengkapi dengan kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang baik.

2.3.2 Strategi Implementasi Manajemen Mutu Pendidikan

Hal mendasar yang harus diperhatikan untuk peningkatan mutu pendidikan adalah pengembangan manajemen yang kuat, tim manajemen dalam rencana spesifikasi, penyampaian hasil mutu organisasi, visi dan misi yang jelas, strategi dan tujuan yang jelas, pembiayaan sekolah, pemanfaatan lulusan dan operasional rencana, terutama pengembangan kurikulum secara berkelanjutan.

Menurut Joseph C.Field dalam Syarafuddin (2002), ada sepuluh langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, diantaranya:

  1. Mempelajari dan memahami manajemen mutu secara menyeluruh.
  2. Memahami dan mengadopsi jiwa dan filosofi untuk perbaikan terus menerus.
  3. Menilai jaminan mutu saat ini dan program pengendalian mutu.
  4. Membangun system mutu terpadu (kebijakan mutu, rencana strategis mutu, implementasi rencana, rencana pelatihan, organisasi dan struktur, prosedur bagi tindakan perbaikan, pendefinisian terhadap nilai tambah tindakan).
  5. Mempersiapkan orang-orang untuk perubahan, menilai budaya mutu sebagai tujuan untuk mempersiapkan perbaikan, melatih orang-orang untuk bekerja pada suatu kelompok kerja.
  6. Mempelajari teknik untuk menyerang atau mengatasi akar persoalan (penyebab) dan mengaplikasikan tindakan koreksi dengan menggunakan teknik dan alamat manajemen.
  7. Memilih dan menetapkan pilot project untuk diaplikasikan.
  8. Tetapkan prosedur tindakan perbaikan dan sadari akan keberhasilannya.
  9. Menciptakan komitmen dan strategi yang benar oleh pemimpin yang akan menggunakannya.
  10. Memelihara jiwa mutu terpadu dalam penyelidikan dan aplikasi pengetahuan yang amat luas.

Untuk mengejar mutu ada tujuh elemen dari manajemen terpadu:

  1. Strategi yang terpokus pada pelanggan. Berarti kepuasaan pelanggan internal dan eksternal dan respons terhadap tujuan dari dalam, sasaran dan perbaikan dalam peran, tanggung-jawab dan perilaku harus menjadi focus pekerjaan.
  2. Kepercayaan terhadap orang-orang, baik internal maupun eksternal merupakan sumber daya yang sangat penting. Pemberdayaan oran-orang pada manajemen pribadi merupakan hal yang vital.
  3. Aktivitasnya yang menunjukan perbaikan terus-menerus merupakan norma yang diharapkan, sehingga status quo merupakan hal yang tabu dalam semua bidang.
  4. Pengembangan dan pelaksanaan suatu sistem berdasarkan proyek dan proses pengawasan dengan menggunakan alat dan teknik mutu.
  5. Jaminan mutu yang terus berjalan berdasarkan penilaian kinerja.
  6. Bersikap positif terhadap koreksi kegagalan, mencakup koreksi yang lebih disukai melalui tindakan preventif yang mendukung, menyesuaikan perubahan dalam organisasi melalui kelompok penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan.
  7. Pemikiran yang berbeda terhadap segala sesuatu dalam pencarian atau pengejaran kepuasan pelanggan.

Berdasarkan elemen-elemen pokok tersebut, terdapat tujuh prinsip manajemen mutu dalam pendidikan:

  1. Komitmen manajemen terpadu
  2. Mutu terpadu pendidikan adalah suatu perubahan budaya organisasi sebagai cara baru bagi kehidupan setiap orang. Hali ini menuntut dewan sekolah dan administrator untuk menggunakan dan mengaplikasikan elemen-elemen dan prinsip manajemen mutu terpadu pendidikan yang pertama.
  3. Selalu mengutamakan pelanggan
  4. Pelanggan internal (pelajar, guru dan personel pendukung) harus berusaha mencapai kebutuhan pelanggan eksternal (pegawai-pegawai, institusi pelatihan, dan kontrak sosial).
  • Komitmen terhadap tim kerjasama
  • Komitmen terhadap manajemen pribadi dan kepemimpinan.
  • Komitmen terhadap perbaikan terus-menerus
  • Komitmen terhadap kepercayaan kemampuan pribadi dan tim.
  • Komitmen untuk meraih mutu.

2.2.3 Strategi Pembekalan Siswa Menghadapi Era Globalisasi

Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan dua perspektif: Kurikuler dan Reformasi. Berdasarkan perspektif kurikuler, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga terdidik kelas menengah dan profesional dengan meningkatkan kemampuan individu dalam memahami masyarakatnya dalam kaitan dengan kehidupan masyarakat dunia, dengan ciri-ciri:

  1. mempelajari budaya, sosial, politik dan ekonomi bangsa lain dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan,
  2. mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan setempat, dan,
  3. mengembangkan berbagai kemungkinan berbagai kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.

Oleh karena itu, pendidikan berwawasan global akan menekankan pembahasan materi yang mencakup:

  1. adanya saling ketergantungan di antara masyarakat dunia,
  2. adanya perubahan yang akan terus berlangsung dari waktu ke waktu,
  3. perbedaan kultur di antara masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat
  4. oleh karena itu perlu adanya upaya untuk saling memahami budaya yang lain,
  5. adanya kenyataan bahwa kehidupan dunia ini memiliki berbagai keterbatasan antara lain dalam ujud ketersediaan barang-barang kebutuhan yang jarang, dan,
  6. untuk dapat memenuhi kebutuhan yang jarang tersebut tidak mustahil menimbulkan konflik-konflik.

Berdasarkan perspektif kurikuler ini,pengembangan pendidikan berwawasan global memiliki implikasi ke arah perombakan kurikulum pendidikan. Mata pelajaran dan mata kuliah yang dikembangkan tidak lagi bersifat monolitik melainkan lebih banyak yang bersifat integratif. Dalam arti mata kuliah lebih ditekankan pada kajian yang bersifat multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner.

Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan peserta didik dengan kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang bersifat sangat kompetitif dan dengan derajat saling ketergantungan antar bangsa yang amat tinggi. Pendidikan harus mengaitkan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Oleh karena itu sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat kita harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.

Implikasi dari pendidikan berwawasan global menurut perspektif reformasi tidak hanya bersifat perombakan kurikulum, melainkan juga merombak sistem, struktur dan proses pendidikan. Pendidikan dengan kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial tidak lagi cocok bagi pendidikan berwawasan global. Pendidikan berwawasan global harus merupakan kombinasi antara kebijakan sosial disatu sisi dan disisi lain sebagai kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Oleh karena itu, sistem dan struktur pendidikan harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan yang memiliki fungsi ekonomis.

Kebijakan pendidikan yang berada di antara kebijakan sosial dan mekanisme pasar, memiliki arti bahwa pendidikan tidak semata ditata dan diatur dengan menggunakan perangkat aturan sebagaimana yang berlaku sekarang ini, serba seragam, rinci dan instruktif. Melainkan, pendidikan juga diatur layaknya suatu Mall, adanya kebebasan pemilik toko untuk menentukan barang apa yang akan dijual, bagaimana akan dijual dan dengan harga berapa barang akan dijual. Pemerintah tidak perlu mengatur segala sesuatunya dengan rinci.

Di samping itu, pendidikan berwawasan global bersifat sistemik organik, dengan ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif-demokratis. Bersifat sistemik-organik berarti sekolah merupakan sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak dapat dilihat sebagai hitam-putih, melainkan setiap interaksi harus dilihat sebagai satu bagian dari keseluruhan interaksi yang ada.

Fleksibel-Adaptif, berarti pendidikan lebih ditekankan sebagai suatu proses learning dari pada teaching. Peserta didik dirangsang memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu yang harus dipelajari dan continues learning. Tetapi, peserta didik tidak akan dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang tidak ingin dipelajari. Materi yang. dipelajari bersifat integrated, materi satu dengan yang lain dikaitkan secara padu dan dalam open-system environment. Pada pendidikan ini karakteristik individu mendapat tempat yang layak.

Kreatif-demokratis, berarti pendidikan senantiasa menekankan pada suatu sikap mental untuk senantiasa menghadirkan sesuatu yang baru dan orisinil. Secara paedogogis, kreativitas dan demokrasi merupakan dua sisi dari mata uang. Tanpa demokrasi tidak akan ada proses kreatif, sebaliknya tanpa proses kreatif demokrasi tidak akan memiliki makna.

Untuk memasuki era globalisasi pendidikan harus bergeser ke arah pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif kurikuler pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global menuntut kebijakan pendidikan tidak semata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan mekanisme pasar. Oleh karena itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif (www.google.com/Paradigma Pendidikan Masa Depan).

DAFTAR PUSTAKA

Syafaruddin, 2002. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Grasindo: Jakarta

Syafaruddin, 2004. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Grasindo: Jakarta

Robins P Stephen, 2005. Manajemen jilid 2 Edisi Bahasa Indonesia. PT. Indeks Kelompok Gramedia: Jakarta

http://www.smkadisanggoro.co.id/Sejarah/28 Januari 2009 pkl 18.01

http://www.google.com/paradigma pendidikan masa depan/28 Januari 2009/pkl 21.23