Djadin – Untuk Mentari

Semburat jingga menggantung di langit yang masih mengantuk, seperti senja… tetapi bukan, ini masih pagi, teramat pagi. Tubuhku menabrak udara dingin yang masih pekat dengan aroma malam. Bisa kulihat bulan mengintip malu-malu dari balik daun sukun, ia seperti enggan memberi kuasa pada mentari yang tengah beranjak dari balik bukit kapur.  Keduanya saling berhadapan, duduk di singgasananya masing-masing. Bulan memucat di langit barat dan mentari merona di langit timur. Seperti mau adu kekuatan saja, pikirku. Ah… atau bulan teramat merindu pada mentari, sampai-sampai melawan kodratnya, demi menatap sang pujaan barang sebentar saja. Sajian romantisme alam di pagi hari.. indah.

Suara rantai gigi sepeda tua-ku memecah keheningan pagi hari. Sesekali kurapihkan selendang bermotif bunga mawar peninggalan Ibuku, yang karena tiupan angin, tidak bisa diam di kepalaku. Kata bapak rambutku itu indah, jadi harus dilindungi dengan selendang, agar tidak cepat rusak. Padahal aku tahu dari Mbok Yem, Bapak memaksaku menggunakan selendang karena Bapak teramat taat pada agama. Tapi tak apa, aku suka selendangku, membuatku selalu ingat pada Ibu.

Satu dua petani kulewati. Mereka terlihat gagah dengan gagang pacul bersandar nyaman di bahu-bahu kekar namun kurus. Kaki-kakinya telanjang, sudah biasa – menyusuri pinggiran jalan yang kaya dengan sensasi segar dari embun rerumputan. “pagi pagi mau kemana, Menul?” tanya salah satu petani yang perawakannya paling tinggi. “ke rumah Pak Guru,” kataku, sambil sedikit menunduk, tanda hormat kepada orang yang lebih sepuh. Tadi itu Pak Rahmat, Bapaknya Sari. Sari adalah teman mainku, rumah mereka dekat dengan tempat tinggal Pak Guru, hanya dipisahkan sepetak tanah kosong, tempat menjemur cengkeh. Dulu, jika sore hari, aku dan Sari selalu main galasin di tanah itu, bersama dengan Benu, Abdul, dan anak kampung lain- yang seumuran denganku. Namun kini tidak lagi, aku dan Sari lebih tertarik belajar menari pada Mbak Restu dibanding main galasin lalu berkelahi setelahnya, karena ulah Benu dan Abdul yang suka jahil.

Pagi ini aku diberi tugas oleh Bapak untuk mengantar bubur buatan Mbok Yem. Bubur Mbok Yem memang lezat, bahannya sama saja dengan bubur biasa, namun tangan Mbok Yem seperti memiliki kekuatan magis yang membuat sekedar goreng pisang terasa amat lezat. Bubur hangat buatan tangan magis Mbok Yem ini akan kuantarkan langsung kepada Pak Guru. Bapak bilang, kondisi Pak Guru sedang tidak terlalu sehat. Jadi Ia meminta Mbok Yem untuk memasak bubur, sebagai tanda perhatian pada Pak Guru. Bapak memang penyayang, aku berkata begini bukan karena aku anaknya, tapi memang begitu kenyataannya. Saking penyayangnya, Bapak pernah memarahiku habis-habisan karena mempermainkan seekor anak kucing. Anak kucing itu kubuat ketakutan setelah kutaruh di dahan pohon mangga samping rumah. Kupikir untuk lucu-lucuan saja, ternyata tidak menurut Bapak. Itu sama saja menyiksa binatang, bagaimana kalau anak kucing itu jatuh? Pertanyaan itu diucapnya dengan nada agak tinggi, aku sendiri hanya duduk terdiam di dahan yang sama dengan si kucing. Oh.. Bapak lebih sayang pada kucing dibanding aku, pikirku. Kejadian itu kualami ketika berumur sepuluh tahun, ya enam tahun yang lalu.

Tinggal satu belokan lagi, aku pun sampai di rumah Pak Guru. “Sari!!”, ku berteriak di depan rumah Pak Rahmat, berharap ada jawaban dari Sari, teman karibku, anak bungsu Pak Rahmat. Namun tak ada jawaban, mungkin Sari tidur kembali setelah solat subuh, aku juga sering begitu. Udara selepas subuh memang dingin, sangat ampuh menggiringku kembali ke peraduan setelah solat berjamaah bersama Bapak dan Mbok Yem. Bapak tentu yang paling tidak suka dengan kebiasaanku ini, namun kadang rasa sayangnya mengalahkan sikap disiplinnya, itulah alasan yang membuatku tetap menjalankan kebiasaan kurang baik itu. Dari depan rumah Sari, bisa kulihat pintu rumah Pak Guru terbuka lebar.  Oh.. aku merasakan rasa hangat mejalar di dadaku, padahal udara dingin pagi hari yang kuhirup dalam-dalam. Pak Guru adalah seorang pemuda lulusan Hogere Burger School atau HBS, di Kota Bandung. Ia bukan penduduk asli desa kami. Pak Guru datang ke desa kami sekitar dua tahun yang lalu. Ia datang ke rumahku diantar Pak Bejo dan Mas Slamet, untuk bertemu dengan Bapak. Ia meminta izin untuk mengajari anak-anak desa membaca dan menulis. Anggapan warga desa bahwa Bapak adalah tokoh agama mungkin jadi alasan Pak Guru digiring ke rumahku untuk meminta izin tinggal. Ya.. warga kami lebih manut pada tokoh agama daripada pejabat desa, kadang Bapak juga merasa risih dengan anggapan ini.

Kutaruh sepedaku di dekat tangga rumah Pak Guru. Rumahnya panggung, seperti kebanyakan rumah di desa kami. Stang sepeda kusandarkan di kayu pegangan tangga yang menyerupai belalai gajah dengan ujung bunga sepatu terpahat apik. Aku menahan napas ketika mengangkat rantang berisi bubur yang masih hangat dari dalam keranjang sepedaku, aku tak mau membuat gaduh, semacam ingin memberi kejutan pada Djadin, nama Pak Guru. Djadin, nama yang cukup asing bagi warga desa kami, oh mungkin begitulah nama anak kota. Harus kuakui, aku amat terpesona pada lelaki yang berumur sepuluh tahun lebih tua dariku itu. Ia lahir pada tahun 1928 di Batavia, sedangkan aku lahir pada Januari tahun 1938, di rumah Mbok Marnah, salah satu sesepuh di Desaku yang sudah biasa membantu proses kelahiran.

Kumulai langkah di anak tangga pertama menuju pintu rumah Pak Guru Djadin. Derap langkah kubuat selembut mungkin, lagi-lagi agar tidak membuat gaduh.  Djadin memiliki kulit putih, menjadi kemerahan jika tersengat sinar matahari siang bolong. Rambutnya hitam pekat, seperti gelap malam tanpa bintang.  Matanya cokelat lembut seperti daun sukun tua yang belum jatuh ke tanah, namun lebih jernih. Sungguh Ia seperti mutiara jika sedang berkumpul bersama orang-orang desa. Wajahnya bercahaya dengan rona tipis merah jambu di pipinya. Alisnya hitam, tidak tebal pun tipis, teratur membingkai mata cokelatnya. Entah ia berasal dari suku apa, namun aku rasa Ia bukan sepenuhnya pribumi. Ia hanya bilang kepada Bapak kalau keluarganya ada di Batavia, namun Ia sendiri bersekolah di Bandung. Ia sebenarnya mahasiswa Fakultas Teknik di Bandung, tetapi tidak sampai usai, Ia lebih memilih menjadi guru, cita citanya sejak dulu. Djadin bukan seperti guru yang mengajar di Sekolah Rakyat. Ia hanya seorang pemuda yang ingin berbagi ilmu. Memang agak aneh dan membuat banyak orang desa bertanya-tanya, untuk apa anak kota pergi jauh ke desa hanya untuk menjadi guru sukarela? Tapi itulah yang membuat Djadin istimewa di mataku.

-djadin #1 | untuk mentari-

Advertisements

5 thoughts on “Djadin – Untuk Mentari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s