cerita bersambung

pas ngoprek-ngoprek kumpulan catatan gw di Facebook eh gw menemukan sebuah catatan yang seharusnya menjadi awal dari sebuah cerita bersambung, tapi udah lebih dari setaun bahkan mau 2 taun berlalu.. sambungannya belom dibuat juga sama si wina ini.. alaaah

cerita ini gw buat tanggal 1 Januari 2010.. dan belum ada kelanjutannya.. miris..

bantuin nyelesein ceritanya dunk… :p

ini dia ceritanya:

WANI

Namanya Wani.

Berani, ya.. Dalam bahasa Sunda Wani berarti berani.

Pagi-pagi buta ia sudah terbangun. Tidak ada yg membangunkannya, dia terbangun dengan sendirinya. Ia sudah terbiasa. Tubuhnya memang disetting untuk bangun pada jam setengah empat pagi.
Diraihnya lampu tempel yang terpasang di dinding bilik kamarnya. Lampu itu amat bersejarah, umurnya lebih tua dari umur Wani. Kacanya sudah buram, padahal Wani selalu membersihkan lampu itu dari kerak asap. Ritual itu biasa ia lakukan sekaligus mengisi ulang lambung lampu tsb dgn minyak tanah. Ada tiga lampu tempel di rumah itu, satu milik Abah, satu milik Emak, dan tentu saja yang terakhir milik Wani. Tugas lampu Abah untuk menerangi ruang tamu atau ruang keluarga atau ruang kerja atau ruang makan, hmm.. begini saja, lampu Abah memang selalu disimpan di ruang depan -hampir semua kegiatan dikerjakan di sini. Lampu Emak ditaruh di kamar utama, haha.. Agak aneh utk menyebut kamar dgn ukuran 2×2 meter sbg kamar utama. Tp begitulah, Abah dan Emak tidur di kamar ini. Kasurnya dari kapuk, ketebalannya sudah berkurang 5 cm dari awal kasur itu dibeli. Lebih tepat disebut sbg alas tidur saja sepertinya, karena rasa empuk tidak akan terasa ketika mereka tertidur di atasnya. Kasur yang keras, tapi Abah dan Emak tetap bisa tidur lelap tiap malamnya, tubuh mereka sudah akrab dgn kerasnya hidup, masalah kasur keras hanyalah masalah ‘tetek bengek’ yang hanya akan dikeluhkan oleh org-org yg tdk mengerti hidup. Lalu lampu Wani, lampu itu bertugas menemani wani tiap malam di kamarnya. Kamar berukuran 2×2 meter, di dalamnya hanya ada kasur kapuk (lagi lagi keras) dan lemari kecil tempat Wani menyimpan semua harta bendanya.

Wani berjalan menuju dapur. Oh iya, hanya ada empat ruangan di rumah ini, ruang depan yang serbaguna, kamar utama, kamar Wani dan ruang dapur. Wani segera mengambil panci setelah menempelkan lampunya di dinding bilik dapur. Ia akan memasak air. Panci itu ia isi dgn air yang memang sudah ia siapkan dari kemarin sore. Air itu ia tempatkan di gentong cai. Yah.. Cai yang berarti air dlm bhs sunda. Ada dua gentong, satu untuk air dan yang lainnya utk beras, yang ini diberi nama gentong beas.

Wani terduduk di samping kompor hawu (kopor dr tanah, berbhn bakar kayu). Matanya memandangi api yang menjilat jilat pantat panci. Ia menerawang, di kepalanya tergambar dua wajah. Keduanya tidak jelas. Yang satu wajah seorang pria berkumis dan yang satu lg wajah seorang wanita beralis rapi.
Tiba tiba pandangan Wani tertutup air mata. Nafasnya sesak. Ia menangis di pagi hari.

*bersambung ah*

==

baru juga intro udah kelar.. dasar penulis karbitan..

ayo ada yg minat buat nyelesein???

*melempar tanggung jawab kepada orang lain* GWAAHAHHAHA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s