Ngabuburit di UI…


Assalamu’alaikum… mau berbagi pengalaman nih. Hari Rabu tanggal 29 Oktober yang telah lalu, daku pergi bersama teman-teman KPM 44 lainnya ‘tuk menikmati indahnya masa muda yang penuh dengan keceriaan, kedinamisan dan kebahagiaan… (backsound: Bunga Seroja by Marakarma…)

Bohong ding!!! Emang bener daku pergi bersama-sama teman-teman tapi kalimat “tuk menikmati indahnya masa muda yang penuh dengan keceriaan, kedinamisan dan kebahagiaan…” itu bohong adanya… kami pergi bersama-sama karena satu alasan yakni untuk mengerjakan tugas mata kuliah BMI (baca: Berpikir dan Menulis Ilmiah). Tujuan perjalanan kami hari itu adalah UI …bukan Universitas IPB tapi Universitas Indonesia… (ya.. iyalah…)

Sehabis kuliah kita langsung turun gunung (baca: pergi) ke BNI (baca: Basecamp Nak IPB) buat nyari tumpangan ke stasiun Bogor. Setelah menunggu sekian lama, ternyata dermawan yang dengan sukarela mau mengantarkan rombongan mahasiswa berduit pas-pasan itu tak datang jua. Semua yang dimintai pertolongan menolak permohonan kami mentah-mentah (habis yang dimintain tolong supir angkot sih, ya sama susahnya…). Akhirnya didapatkanlah satu mobil sporty bercat biru dengan striping elegan bertuliskan Angkutan Kota alias AngKot jurusan Kampus Dalam-Bubulak yang dengan baik hati mau menerima permohonan kami, namun dengan syarat satu orang bayar dua ribu dan diantar sampai Bubulak doang… (itu mah sama aje naik angkot ngeteng…) ya tapi apa boleh buat… daripada kesorean sampai UI-nya, akhirnya kami pun berkata “Deal!!!!” kepada sang supir yang siang itu terlihat seperti Tantowi Yahya… adeu… bisa nyanyi lagu kontri atuh?! He…

Keadaan di dalam angkot tidak kalah miris dengan keadaan kantong kami… (curhat colongan…).

Begini denah angkotnya:

denah angkot1
denah angkot1

Sangat padat ya?! Yaiyalah padat!! Kapasitas angkot yang hanya 12 penumpang, dijejelin makhluk hidup sebanyak 15 jiwa… alias over-capacity. Ya.. demi menghemat 500 rupiah alias gope’ kami pun rela berdesak-desakkan, sampai ada yang membuat formasi zig-zag biar semua bisa duduk walau hanya setengah porsi (baca: duduk prihatin) bayangkanlah! Betapa menyedihkannya… hiks… (sambil tersenyum licik…). Karena Alhamdulillah saya duduk dengan syahdu (baca: di pojokkan, terus mendapat tempat duduk satu porsi pas! tidak kurang tidak lebih). Ketika itu saya merasakan nikmat Tuhan yang amat besar (terkena angin sepoi-sepoi dari jendela… hmmm… lumayan).

Singkat cerita kami sudah sampai di terminal Bubulak. Kami pun diturunkan secara paksa karena memang sudah habis masa kontraknya (baca: sudah sampai tujuan). Tapi ternyata sangat sulit untukku keluar dari angkot itu, berat rasanya untuk meninggalkan angkot yang telah menemani kami selama kurang lebih setengah jam itu… sangat mengharukan bukan?! Sebenarnya ada satu alasan yang tidak bisa dinafikkan sampai-sampai daku sulit tuk keluar dari benda kotak beroda empat itu yakni kakiku KESEMUTAN gara-gara setengah jam tidak gerak-gerak!!! Menyiksa bukan? Bagaimana nasib para pelaku formasi zig-zag ya? Pasti lebih tersiksa… SEMANGAT TEMAN!!! SEMANGATLAH!! Karena sesungguhnya perjalanan kita masih jauh, alias masih harus nyarter angkot sekali lagi buat sampai di stasiun Bogor. It means masih ada waktu selama kurang lebih satu jam buat kalian melakukan formasi yang serupa di angkot yang berbeda… hohoho… selamat berzig-zag ria…!

Tapi ada perubahan posisi, begini denahnya:

denah angkot2 (tak kalah miris bukan?!.. malah lebih memprihatinkan...)
denah angkot2 (tak kalah miris bukan?!.. malah lebih memprihatinkan...

Singkat cerita lagi, kami sampai di STASIUN BOGOR!!! Akhirnya tak lama lagi daku dapat merasakan sensasi itu kembali… sensasi berdesak-desakkan lagi!!! Tidaakk! Hehe… Karena kami akan hijrah ke UI naik kereta economy class!!!

Waw… daku sudah tidak sabar lagi merasakan angin sepoi-sepoi (baca: angin ribut ) menerpa wajahku dari jendela kereta. I’m coming UI…! (backsound: Leaving On The Jet Plane versi Justin Timberlake… koq?! Sebenernya backsound yang lebih cocok tu lagunya Didi Kempot yang Stasiun Balapan tapi ya sutralah… (mlengos sambil mencari blangkon…?!)).

Tak lupa sebelum naik kereta kami harus melakukan satu ritual wajib, apakah itu?? Beli karcis?? Benar sih, tapi kurang tepat! Ritual ini harus dilakukan dengan kekhusyukan. Membakar menyan biar selamat sampai tujuan? Bukan… bukan, biar narsis kami tetap menjunjung tinggi kehidupan beragama. Memasukkan handphone dan dompet ke dalam plastik kresek lalu dikalungkan di leher sehabis itu di-sumputin (baca: disembunyikan) ke dalam baju agar terhindar dari copet? Salah… salah, agar terhindar dari copet mah gampang, ada satu tips jitu yakni jangan bawa hp sama dompet kalau jalan-jalan (pasti ampuh!). Ah… langsung saja deh, jawabannya adalah… bergaya di tengah hiruk pikuk untuk difoto, itulah ritual wajib kami. That’s truly us!

Huh… seorang bapak melihat dari kejauhan sambil berkomentar, alah-alah… gayamu itu nak… tak ubahnya selebriti… pergi ke sana ada kamera… pergi ke sini ada kamera… famous sekali rupanya kau ini… tak sabar rasanya diri ini… ingin kujitak palamu… ngalangin jalan tahu!!!

Tak lama kemudian, suara sang operator stasiun terdengar dari pengeras suara (baca: speker) “kepada semua penumpang kereta ekonomi Jabodetabek, kereta ekonomi Jabodetabek akan segera datang di jalur 7”, kami pun terhenyak… karena kami masih ada di jalur 1! Biasa jarang naik kereta jadi buta jalur. Setelah loading beberapa saat (baca: cukup lama) kami pun blingsatan menyebrangi rel. Bapak yang tadi kembali berkomentar, banyak kali tingkahmu ini boy… difoto berjamaah, nyebrang rel berjamaah… bikin pusing orang yang lihat… lekas-lekas tobatlah kau…

Di dalam kereta kami bertemu dengan handay tolan (baca: barudak sanasib sapananggungan) yaitu anak KPM 44 lainnya yang mendapat tugas ke perpustakaan UNJ.

Jadilah gerbong itu ramai bak pasar malam (baca: rame pisan), pedagang tumpah ruah (baca: banyak pedagang asongan), anak-anak kecil tertawa riang (baca: satu geng anak SD baru pulang sekolah, berantem di dalam gerbong), musik melayu mendayu-dayu di sela suasana (baca: banyak pengamen)… luar biasa bukan?

Sampai di stasiun UI… kami pun berpisah dengan kelompok ekspedisi perpustakaan kampus UNJ. Dengan langkah mantap kami menyongsong UI.

Baru beberapa langkah… kami tersadar kalau kami berada di suatu negeri yang asing, kami hilang arah (baca: tidak tahu letak perpustakaan UI) akhirnya nanya deh sama om-om (baca: mahasiswa UI yang mengira kami masih SMA, terbukti kalau kami masih lucu-lucu XP) dia pun memberitahukan letak perpustakaan UI… makasih ya om!

Tidak lama kemudian kami menemukan perpustakaannya. Tapi sayang, hanya tiga orang yang boleh masuk ke perpustakaan UI, yang lain ngapain dong? Ya foto-foto lah…! Masih saja nanya, heran deh. Dari jarak berpuluh-puluh kilometer, bapak komentator kembali berkomentar, sudah bisa kutebak pikiran kau ini boy… tak ada perkembangan yang berarti… hidupmu ini tak jauh dari sorotan kamera… apalah yang kau persembahkan pada amak dan bapak kau selain foto-foto itu? Sadarlah kau boy…

Yup… tak lama berselang, ketiga utusan tadi sudah keluar (dengan selamat… Alhamdulillah) kami pun segera pulang. Tak sabar ingin bersua teman lama (baca: anak IPB). Saat itu suasana kampus IPB sangat kami rindukan (baca: pengen beli teh upet, haus). Menuju perjalanan pulang, daku bertemu dengan teman SMA yang sekarang jadi mahasiswi UI di stasiun UI dekat kampus UI (contoh kalimat tidak efektif). Jadilah dia kami introgasi untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kereta pada waktu sore hari. Glek… kenyataannya memang jam segitu kereta sedang penuh-penuhnya. Daku sampai shock melihat ada orang naik-naik sampai ke atap kereta. Yang saya khawatirkan adalah keselamatan penumpang kereta yang ada di dalam gerbong. Bagaimana jika mas-mas yang di atap gerbong itu mengeluarkan gas hasil metabolisme tubuhnya (baca: kentut)? Terus gas itu berdifusi (baca: merembes) lewat atap besi lalu terhirup oleh orang-orang yang ada di bawahnya? Can you imagine it? Itu akan menjadi peristiwa holocaust modern… seperti masa Hitler dong… seram sekali?! Makanya jangan suka naik di atas atap kereta (kata nenek itu berbahaya).

But semua berakhir dengan happy ending. Kami sampai di Bogor dengan selamat sentosa dan tanpa kurang satu apapun kecuali berkurangnya bobot dari dompetku (baca: bokek lagi-bokek lagi). Semua rintangan berhasil kami lewati walau harus berjibaku dengan penat… pergilah kau pekat… seperti berjelaga jika ku sendiri… (baca: udah mulai konslet).

*Ada satu rahasia… sebenernya bapak komentator itu hanyalah sosok imajiner… jadi yang berkomentar itu adalah daku, haha… jangan banyak cakap kau boy… cepat kerjakan laporannya… ingat dikumpulnya tak boleh lewat dari tanggal 10 November!

Ops.. ya udah atuh… sekian NGABUBURIT DI UI bertemu lagi dengan daku di-blog yang sama… Wassalam!

Advertisements

6 thoughts on “Ngabuburit di UI…

  1. buset, lengkap amat bu, pake denah angkot juga, wina2
    ada2 aja, makanya lain kali kalo mau main ke UI ajak gw, lagian ngapai lagi rajin amat ke perpusnya, ke LSI aja juga cukup.ahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s